Memahami Hadis Pertama: Keutamaan Niat dalam Islam
Oleh: dr. Chaironi Hidayat
Hadis merupakan pedoman penting dalam Islam setelah Al-Qur'an. Semua hadis yang sahih adalah sabda Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah diverifikasi kebenarannya. Dalam kajian ini, kita akan membahas hadis pertama yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, yaitu hadis tentang niat.
Kedudukan Umar bin Khattab dalam Riwayat Hadis
Hadis ini diriwayatkan oleh Umar bin Khattab, salah satu sahabat terdekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Umar adalah khalifah kedua setelah Abu Bakar dan dikenal sebagai sosok yang tegas dan pemberani. Dalam sejarah, Umar memiliki julukan Abu Hafs, yang berarti "bapak singa", karena keberaniannya. Ia juga seorang perawi hadis yang meriwayatkan sekitar 500 hadis sepanjang hidupnya.
Kisah Keberanian Umar bin Khattab
Dalam berbagai riwayat, keberanian Umar begitu menonjol. Salah satunya adalah ketika ia berburu di Mekkah bersama Hamzah bin Abdul Muthalib. Berbeda dengan kebiasaan masyarakat saat itu yang berburu kijang atau kambing liar, Umar dan Hamzah tidak akan pulang sebelum berhasil menangkap singa. Oleh karena itu, keduanya dikenal sebagai sosok yang luar biasa di kalangan masyarakat Arab.
Selain itu, Umar juga pernah menyampaikan khutbah Jumat dan secara ajaib mengingatkan pasukannya yang berada di medan perang agar mewaspadai serangan musuh dari belakang. Meskipun jarak mereka terpaut ribuan kilometer, peringatannya terbukti benar.
Hadis Tentang Niat
Berikut adalah hadis yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab:
"Sesungguhnya segala amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Maka barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin ia capai atau karena perempuan yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya hanya sebatas itu." (HR. Bukhari & Muslim)
Hadis ini memiliki nilai yang sangat tinggi dalam Islam. Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu' menyebutkan bahwa hadis ini menjadi dasar bagi hampir 50% ajaran Islam.
Makna Hadis: Niat adalah Segalanya
Hadis ini mengajarkan bahwa setiap perbuatan harus memiliki niat yang jelas. Jika seseorang melakukan sesuatu tanpa niat yang benar, maka hasil yang diperoleh pun tidak akan maksimal. Dalam konteks hijrah, ada yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, ada pula yang hijrah karena urusan duniawi atau karena ingin menikahi seseorang.
Hadis ini juga relevan dengan teori motivasi dalam ilmu psikologi modern. Abraham Maslow, dalam teori hirarki kebutuhannya, menyebutkan bahwa motif tertinggi manusia adalah kebutuhan kasih sayang dan aktualisasi diri. Dalam Islam, konsep ini sudah diajarkan sejak 1400 tahun yang lalu dalam bentuk ikhlas, yaitu melakukan segala sesuatu semata-mata karena Allah subhanahu wa ta’ala.
Kesimpulan
Hadis ini memberikan pelajaran penting bagi umat Islam bahwa segala sesuatu tergantung pada niatnya. Jika niat kita baik, maka hasilnya juga akan baik. Oleh karena itu, kita harus selalu menata niat dalam setiap perbuatan agar mendapatkan ridha Allah subhanahu wa ta’ala.
Wallahu a’lam bish-shawab.